Sering kali kita mencari makna bahagia dan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Meyakini pada dasarnya setiap insan ingin mendambakan bahagia. Setiap orang ingin beroleh bahagia. Tapi cara untuk mendapatkannya tetap menjadi tanda tanya “?”. Orang senantiasa meraba-raba tak kunjung menemukannya. Untuk banyak orang, bahagia hanyalah semacam impian belaka, suatu yang tak terjangkau oleh manusia. Dari masa ke masa orang berbicara soal bahagia. Tapi kenyataan yang ada, sungguh amat berbeda. Dunia telah berwarna derita. Melarat telah menyemai dimana-mana.
Lalu kita bertanya: “kenapa?”
Kenyataan yang ada, “melarat, derita, sengsara, kehancuran”, membuat insan dunia merasa resah, gelisah, takut dan ngeri. Berjalan pun enggan, takut. Bermimpi pun enggan, tak berharga. Maka Nampak jelas dimanakah letak sejatinya insan yang benar.
Allah Swt telah berfirman:
Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah (QS. Yunus : 62)
Sungguh beruntunglah orang-orang beriman dan bertaqwa. Pada dirinya mengalir ketaatan kepada aturan-aturan Allah. Seluruh anggota tubuhnya berjalan atas kehendak Allah. Pada dirinya berbekas kebenaran dan memancarkan nur illahi. Sedangkan orang yang tidak beriman dan bertaqwa. Hatinya kosong dari nur illahi. Dia jauh dari bimbingan Allah. Dia terlepas dari kendali Allah. Dia selalu takut akan datangnya bahaya-bahaya dari luar dirinya. Baik itu manusia ataupun makhluk lain. Sehingga terkadang, ketika kesempurnaan telah berada pada dirinya, jiwanya merasa tersiksa, penuh derita. Meski bahagia yang diidam-diamkannya, namun sengsara menimpahnya.
Orang yang tidak beriman dan bertaqwa mulanya mencari kebahagiaan dengan melepaskan diri dari aturan-aturan yang telah Allah terapkan. Maka, sejatinya ia akan mendapatkan sebuah kenyataan bahagia baginya jauh dari kenyataan. Baginya kebahagiaan hanyalah isapan belaka.
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thoha:124)
Semestinya, insan menyadari arti hidup dan kehidupan sebenarnya. Kebahagian yang besar adalah ketika keimanan telah merangkai dan menyemai dalam diri kita dan aktivitas kehidupan kita. Maka Bahagia menjadi jaminan mutlak dari Zat Yang Memiliki Kebahagiaan, Allah Azza Wa Jalla.
Jangan pernah berhenti untuk memperbaharui keimanan kita.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Tiga hal yang terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.”
Orang yang sengsara bukanlah yang tak memiliki harta yang melimpah, atau tak memiliki rumah megah, atau tak memiliki kendaraan super wah. Tapi, orang sengsara yang sebenarnya adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka ini, selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kemurkaan, dan kehinaan.
Kehidupannya menjadi gelisah, sempit, sesak, dan berat. Merupakan akibat dari berpaling, ingkar, dan kufur terhadap Allah Swt sebagai sumber petunjuk dan keimanan. Tidak ada sesuatu yang membahagiakan jiwanya, mengusir keresahan darinya kecuali iman yang benar kepada Allah Swt. Akibatnya kehidupannya akan terasa hampa dan hambar.
Seberapa kecil kuat dan lemah iman seseorang, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan yang didapatkan.
Kini sudah saatnya setiap diri menerima dengan tulus, ikhlas dan penuh keyakinan bahwa, “Tidak ada kebahagiaan tanpa nilai keimanan”. Dan nilai keimanan didapatkan saat jiwa menghadap Allah Swt. Sejarah telah mencatat banyak hal, menyadarkan bahwa kehidupan yang tanpa keimanan akan berujung pada kehancuran dan kebinasaan. Saat kekafiran itu menjadi berbuah laknat, saat kesombongan berbuah dusta.
Bila seseorang ridho Allah sebagai Rabbnya. Ia Nampak akan terlihat dari keteguhan hati dalam mencintai Allah, kesucian mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam menghadapi takdir.
Orang yang sudah mencapai puncak keimanan kepada Allah tidak akan pernah merasakan beratnya perintah Allah, sebesar dan seberat apapun perintah itu. Tidak pula ragu sedikitpun meninggalkan larangan Allah, sekecil apapun larangan itu. tidak pula mampu menggeser orientasi hidupnya kepada selain Allah. Ia yakin hidupnya semata dan untuk Allah Swt. Shalat, ibadah, hidup dan matinya ia persembahkan hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. sedikitpun tidak ada rasa berat dan kesal di dalam dirinya dan ia pasrah dan menyerah total terhadap semua keputusan dan pilihan Allah dan Rasulnya.
Kebahagiaan sejati datang dari Zat Yang Maha Memberikan Kebahagiaan, Allah Swt. Kebahagiaan itulah seumber utama yang selayaknya menjadi pertimbangan bagi setiap orang yang mengaku hamabaNYa.
” Sesungguhnya sambutan orang-orang mu’minin apabila diajak kembali kepada Allah dan Rasulnya untuk meng-hukum diantara mereka ialah berkata ‘kami dengar dan kami taat’. Dan mereka itulah orang-orang yang ber-untung ” ( Q.S. 24:51)
Dalam hidup ketaatan terhadap Allah adalah hal yang utama. Tanpa taat tak akan muncul akhlaq, tanpanya tak akan ada iman. Maka tatkala tak ada iman, hidupnya tak luput dari balutan pengingkaran. Hari-harinya hanya sibuk dengan urusan dunia. Pagi hingga malam ia hanya fokus dalam pemenuhan syahwat duniawi. Ia tak lagi melihat bahwa Allah selalu mengawasi. Dan ia lupa bahwa hidup tak akan berhenti sampai dunia yang ia cari. Tapi ia meniadakan ada kehidupan kekal yang siap ia jumpai. Dan saat ia kembali, siksa amat pedih siap menggerogoti.
Kalaupun ia mengaku sebagai seorang muslim, tapi tidak penah berusaha untuk taat kepadanya.. Ia hanya hafal ayat di kepala, semanis suara melafalkan kalimat tapi tak pernah merubah dirinya dalam menunjukan nilai keimananna dihadapan-Nya. Ia hanya menjadi manusia tak bernilai. Dan ia tak akan pernah melambungkan islam dan mengagungkannya kalau taat tak pernah ia miliki.
Dalam pandangan seorang yang taat. Ketika ia mendengar nasihat-nasihat kebaikan maka ia akan mengikutinya, “sami’na wa atho’ana” (kami dengar dan kami taat) ialah motto seorang Muslim, motto yang membedakannya dengan kaum munafiq, yang mendengar lantas kemudian meninggalkan. Dari sanalah kemudian menggerakan sel-sel semangat, sekaligus sebagai bukti cintanya seorang manusia kepada Tuhannya, Rabb Semesta Alam.
Nilai ketaatan tak lain dari pewujudan dari jiwa seorang muslim akan apa yang telah dia ikrarkan, dimana dia telah bersaksi dan bersumpah “bahwa tiada illah selain Allah”. Maka setiap apa yang ia lakukan tidak lepas dari persaksian ini. Dan hatinya, pikirannya, perbuatannya tak lepas dari pengabdian ketaatan kepada-Nya.
Maka tidak masuk akal, kalau seseorang jelas-jelas menentang Allah, tak pernah mengikuti perintah-Nya namun masih mengaku sebagai orang yang berserah diri. Mereka mengaku sebagai Muslim namun pada kenyataanya mereka berserah diri kepada selain Allah. Mereka menuhankan hawa nafsunya tak jarang pula menuhankan kehidupan dari aturan-aturan selain Allah.
Bagi seseorang yang taat, Allah berikan sebuah jaminan yang indah. Dan jaminan itu ialah jannah-nya, surga yang mengalir sungai di bawahnya, yang segala keni’matan, keindahan, kesenang-an melimpah-ruah. Itulah tempat untuk orang-orang yang taat. Sedang untuk para pembangkang, para munafiq, tempat kembali yang terburuk adalah neraka jahanam dan mereka kekal di dalamnya.
Tanpa taat, yang ada hanyalah azab; sesungguhnya azab Allah sangatlah pedih!
Semua orang mendamba bahagia dan selamat. Namun, hanya ketaatan kepada Allah yang menjadikan hati mampu memperoleh hakikat bahagia sebenarnya.
Banyak orang yang mengukur sebuah kebahagiaan hanya dalam takaran duniawi. Saat harta menjadi sandaran, saat jabatan menjadi tujuan, saat pujian menjadi perhiasan. Dan cukupkah saat memperoleh itu semua, seseorang sudah memperoleh bahagia?
Seorang yang orientasinya dunia. Maka saat itu semua tak ia peroleh, hidupnya tak akan merasa tenang. Apalagi dihadapan, melihat orang-orang yang lebih dahulu memperoleh itu dibanding dirinya. Bagi seseorang yang memiliki pandangan sebatas itu, maka ia akan terus berusaha dengan cara apapun untuk memperoleh itu. Demi menunjukan bahwasanya ia telah bahagia.
Hakikat Bahagia yang sebenarnya, tidak dapat diukur dari seberapa yang ia punya. Tetapi, kebahagiaan yang sebenarnya bisa di rasakan saat hati merasa sudah mendapatkan cinta Allah. Mesti tak punya harta yang melimpah, atau jabatan setinggi-tingginya. Hatinya tetap merasa begitu tenang dan merasa apa yang ada pada kondisinya adalah kebahagiaan. Dan untuk mendapatkan cinta Allah, ia hanya bisa diraih dengan ma’rifatullah (mengenal Allah).
Wasilah yang mampu menghantarkan hati medapatkan cinta Allah dan meraih kebahagiaan, adalah perilaku ihsan (perbuatan baik). Ihsan akan membahagiakan hati dan melapangkan dada. Sebaliknya meninggalkan ihsan akan mendatangkan kegundahan dan kesempitan dalam hati.
Saat hati merasa tenang, merasa tentram, hakikatnya ia telah merasakan kebahagiaan. Tak banyak orang yang bisa merasakannya. Hanya orang yang orientasinya tidak sebatas duniawi melainkan ia juga berorientasi dan berivisi akhirat. Ia akan memperoleh kebahagiaan dengan karunia dan rahmat Allah.
Apapun yang ada pada kondisinya. Tak melupakannya dari sifat kesyukuran. Dan tak membuatnya berapaling dari usaha memperoleh sumber kebahagiaan yang sejatinya, Allah Swt.
Hanya saja, tidak banyak orang yang menyadari ini semua. Sekalipun, ada yang menyadari tak banyak yang mau meluruskan hakikat tujuan bahagia yang sebenarnya. Dan saat mengetahui, sejatinya kita kembalikan hakikat kebahagiaan yang sejati ialaha saat hati kita berada padda sumber kebagaiaan. Yakni, Allah Swt
Penulis: Ramadhan Aziz (Penulis Buku Untuk Jiwa Yang Merindu Tuhan-Nya)


