Disadari atau tidak, banyak orang yang tidak menyadari harga atau nilai keimanan. orang mudah merusak dan bahkan membuang imannya dari dalam diri hanya karena berharap sedikit kenikmatan dunia disisinya. Akhirnya ia menggadaikan iman, petunjuk dengan hidayah dan meperdagangkan akhirat dengan dunia.
Ia sibuk dengan aktivitas yang melenakan. Lidahnya kelu dari ucapan dzikir kepada-Nya dan bahkan sebaliknya lisannya fasih mensenandungkan syair-syair percintaan. Kakinya begitu berat melangkah menuju tempat-tempat kebaikan dan sebaliknya ia begitu mudah menuju tempat-tempat maksiat. Tangannya berat untuk bersedekah, tapi sebaliknya ia amat mudah untuk hura-hura.
Betapa sadarilah, iman adalah karunia Allah yang paling mahal. Tidak semua manusia dapat kesempatan memperolehnya. Sebab itu, iman harus dipelihara dan dijaga. Bila ia rusak dan hilang, maka nilai kehidupannya akan menjadi tiada di mata Allah Swt. Kendati di dunia ia merasakan berbagai kenikmatan dan kesenangan hidup. Namun di akhirat ia akan mendapat murka dan siksa yang pedih.
Kendati kondisi iman terkadang naik dan turun, kita harus selalu berupaya maksimal agar iman itu tetap terjaga.
Agar iman itu tetap terjaga, ia harus memahami betapa besarnya arti sebuah nilai iman. Orang-orang yang sudah menyadari nilai iman, pasti ia akan menjaganya dengan baik. Sampai ia merasakan kelezat dan dan kemanisan sebuah iman. Kalau sudah seperti itu, maka saat itulah ia sampai ke puncak keimanannya. Lalu, ia akan merasakan betapa besarnya peran iman dalam kehidupannya. Ia akan hidup dalam kesyukuran baik saat dalam kondisi dibawah sekalipun. Tidak tergoda oleh fatamorgana dan gemerlap kehidupan dunia. kendati ditawarkan padanya dunia dan seisinya. Karena ia sadar, orientasi hidupnya adalah kebahagiaan akhirat yang dijanjikan Allah kepadanya.
Saat seeorang mengerti arti sebuah iman. Dan pahan atas konsekuensi nilai keimanan yang ia miliki. Maka ia selalu siap, saat tantangan iman begitu datang menghapiri. Ia senantiasa kuat dan tak ada yang mampu mengoyahkan imannya. Sekalipun ia digadaikan dengan perhiasan dunia yang melimpah, baik harta, jabatan atau wanita.
Tak ada yang bernilai baginya, selain sebuah nilai keimanan kepada-Nya. Meski ia harus menderita dalam mempertahankan imannya, ia rela. Karena hakikatnya ada kebahagian yang siap menantinya bagi insan yang taat kepada-Nya.
“jika engkau diwaktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau diwaktu pagi, maka janganlah engkau menunggu waktu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau mati. -HR. Bukhari-
Sesungguhnya hidup adalah rangkaian dari berbagai kesempatan yang silih berganti datang dan pergi. Hingga sampai batas umur yang ditakdirkan-Nya. Beruntunglah bagi setiap manusia yang terjaga diatas kesadaran. bahwa hidupnya didunia pada hakikatnya adalah sebuah pengabdiaan kepada Allah Swt. Saat kehidupanya digunakan untuk mengunpulkan bekal bagi akhiratnya. Sehingga ia selalu mengusahakan untuk mengambil yang bermanfaat bagi akhiratnya dan menjauhi segala bentuk kesia-siaan yang melalaikan dirinya.
Demikianlah manusia yang berakal, dia sangat memperhatikan amal kebaikan sebagai persiapan menghadapi kematian. Tak ada waktu luangpun dari tidak taat kepada-Nya. Dan dia selalu mengoreksi diri terhadap amalan-amalannya selama ini. Niscaya atas keasadaran itu dia bisa merengkuh sukses dan menempati tangga kemuliaan, baik dimata manusia karena keutamaan dan manfaat yang bisa ia bagi untuk orang lain, atau disisi Allah Ta’ala karena baik dan banyaknya ketaatan.
Sebaiknya, Celakalah bagi seseorang yang justru larut dalam kelalaian dan yang menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya.
Coba, apa nilai orang yang sibuk dengan hal-hal tak bermanfaat? Apa manfaat yang bisa dibagi oleh orang-orang yang sibuk dengan hal-hal yang tak bernilai? Nah, orang yang seperti ini sudah pasti jatuh dalam pandangan manusia, dipersepsikan sebagai orang yang tidak berguna dan yang pasti tidak baik keislamannya.
“Ingatlah bahwa para kekasih Allah itu tidak akan merasa takut dan tidak akan bersedih. Mereka orang-orang yang beriman dan keadaan mereka bertaqwa. Bagi mereka berita gembira (dalam kehidupan akherat)…” (QS. Yunus : 62-64)
Adakalanya, seseorang berada pada kondisi yang menyenangkan. Tetapi, ada pula kita akan berada pada kondisi yang tidak kita harapkan. Saat kadang kecemasan melanda gerak langkah kita. Pada dasarnya, kita adalah makhluk yang paling sering kala dilanda kecemasan. Ketika kita dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan kita belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikiran kita akan menjadi guncang dilanda kecemasan. Perkara tersebut sudahlah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan manusia.
Setiap manusia memiliki peluang yang sama untuk merasakan kecemasan. Tetapi sebagai seorang muslim kita telah mendapatkan petunjuk., bahwa kecemasan ataupun ketenangan hidup seseorang ditentukan oleh Jarak kita pada Zat Yang Memberikan Ketenangan, yakni Allah swt. Apabila kita dekat dengan Allah, maka peluang untuk merasa cemas akan sangat kecil. Namun ketika jarak kita jauh dengan Allah, maka kita mungkin akan merasa hidup ini tiada waktu yang berlalu tanpa kecemasan. Karena kita tak pernah memahami hakikat sumber ketenangan bersumber dari Allah Swt.
Iman yang hidup mempunyai ruh kekuatan menghilangkan kecemasan. Hidupnya iman dapat diwujudkan dengan amal yang nyata serta pengorbanan yang ridho kepada-Nya. Iman yang hidup akan senantiasa menuntun untuk melakukan upaya mencari jalan kebaikan agar selalu dekat Allah swt. Sedang kekuatan iman dibuktikan dengan senantiasa beramal shaleh.
Tatkala kita menghadapi persoalan kian berat, maka kita akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan sandaran untuk kita mengadu atas masalah yang sedang dihadapi. Mengingat bahwa kita adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Pemilik Sumber Ketenangan, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita alami.
Allah sudah mengingatkan hamba-Nya,
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).
Adanya permasalahan hidup yang membuat rasa kecemasan yang begitu mendalam, pada dasarnya itu muncul pula dari cara kita berpikir yang sempit. Menganggap masalah merupakan kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang terjadi. Seharusnya dalam hidup seorang mukmin yang taat segala apa yang terjadi dalam kehidupan ini diposisikan semata-mata atas kehendak-Nya.
Dengan demikian, dalam hidup manusia sangat diperlukan adanya perilaku meredam kegelisahan hati. Bentuknya, melaui ketaatan kita kepada-Nya. Pentingnya meredam gelisah hati ini, tidak lain didasarkan pada kenyataan bahwa dengan demikian. Hidup kita akan lebih bermakna.
“Tidak menutup kemungkinan hati terhenti pada cahaya,sebagaimana terhalangnya jiwa karena gelapnya benda-benda makhluk (syahwat)” -Al Hikam-
Begitu indahnya dunia ini membuat orang terpesona padanya, sehingga membuat lalai bahwa mereka diciptakan bukan untuk menghuninya dunia selama-lamanya, dan tidak sadar bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Dunia tak lain semata untuk mengumpulkan bekal dalam perjalan panjang menuju kampung abadi.
Tapi tak banyak orang yang menyadari. Atau tatkala menyadari tak mau mengambil resiko. Lihatlah betapa syahwat menjadi penghalang banyak manusia untuk berbuat ketaatan kepada Allah, menghalalkan segala cara demi memperolehnya. Tentu, Jalan tuk menggapai Allah adalah bukan jalan yang mudah tapi jalan yang penuh dengan resiko, halangan dan rintangan yang senantiasa menghadang manusia. Karena beratnya medan yang ditempuh, dan betapa menggiurkannya pemandangan dan persinggahan yang menggodanya untuk tidak melanjutkan perjalanan, maka jarang sekali yang dapat berhasil melanjutkan perjalannya menuju Allah-subhanahu wa ta’ala- .
Berkata Ibnul Qayyim Jauziyah-rahimahullah- : “tatkala seorang hamba bertekat meniti jalan menuju Allah, maka berbagai halangan dan rintangan akan datang menghentikannya. Rintangan pertama adalah syahwat berupa jabatan,kesenangan, wanita dan pakaian mewah. Jika saja dia tergoda… alamat musnah teputuslah impiannya menuju Allah.”
“Ketahuilah sesungguhnya dunia ini hanyalah permainan,senda gurau, perhiasan dan tempat saling berbangga antara kalian, dalam memperbanyak harta dan anak-anak, bagaikan hujan yang turun dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan membut orang-orang kafir terkagum-kagum melihatnya untuk kemudian layu dan mengering, dan dinegeri akhirat ada azab yang pedih menanti dan ada pula keampunan dari Allah dan keridhoanNya, tidaklah kehidupan dunia ini kecuali hanyalah kesenangan yang penuh tipu daya”. (QS. Al-hadid:20).
Kesalahan itu misalnya kita telah beristiqamah menempuh jalan kebaikan, namun tujuan kita dibelokkan oleh keinginan-keinginan lain,bukan merapat kepada-Nya. Tujuan yang dibelokkan oleh hawa nafsu berupa keinginan sebagai seorang khowas; orang yang istimewa di bandingkan manusia awam. Penyebabnya karena hatimu terpengaruh oleh cerita-cerita bohong yang dibesar-besarkan.
Penulis: Ramadhan Aziz (Penulis Buku Untuk Jiwa Yang Merindu Tuhan-Nya)


