“Boleh jadi kita hidup lama, tapi dimata sang kekasih “Allah” tak da nilainya, Merasa telah berbuat banyak kepada-Nya tapi sebenarnya setiap hari kita justru semakian jauh dari-Nya. Sudahkah kita bertanya, “Apa sebenarnya yang telah kita kerjakan?” -Ramadhan Aziz-
Kan tiba suatu masa, saat dimana usia kita melangkah lanjut. Saat dimana merasa energi kita telah terkuras banyak. Saat dimana kita merasa cukup untuk memberi sesuatu. Disaat seperti itulah, apa yang terbesit dalam jiwa kita? Mungkin kita merasa telah disibukkan oleh urusan akhirat dan kini saatnya banting stir untuk mencurahkan perhatiannya sepenuhnya kepada dunia? Apakah kita demikian puas dengan apa yang telah kita kerjakan dan merasa tak perlu lagi untuk muhasabah demi kemajuan kualitas amal kita pada masa yang akan datang?
Langkah demi langkah telah kita arungi dalam perjalanan hidup ini. Menapaki terjalnya perjalanan yang dilalui seringkali kita lupa diri. Tak layak terkadang menghadirkan keangkuhan diri. Dan pada akhirnya nafsu diri perlahan menghakimi. Lantas apa yang kita lakukan jika sudah seperti ini? Barangkali memang sudah tiba saatnya bagi kita merenungi dan menelaah diri masing-masing. Kita tidak ingin tertipu. Kita tidak pula ingin hidup dengan amal-amal kosong “fatamorgana” sebagaimana amal orang-orang kafir dan nasrani. Mereka merasa telah begitu banyak berbuat kebaikan, padahal yang dilakukannya adalah sebuah kejahatan. Mereka merasa telah berbuat berbuat begitu banyak kemanfaat padahal sesungguhnya yang dilakukan hanyalah sebuah kerusakan. Kita tentu tidak ingin terjabak pada amal-amal lahiriah yang mengabaikan esensi keimanani. Sehingga apa yang kita lakukan menjadi sia-sia, sebagaimana yang dilakukan orang-orang kafir atau nasrani.
Tampaknya hal yang layak untuk kita pertanyakan saat ini bukanlah sudah seberapa banyak kita telah berbuat. Namun, apakah hal yang sudah kita lakukan dapat diperhitungkan sebagai sebuah kebajikan yang akan mengantarkan kita ke taman impian “Firdaus”? Kita bukan Yahudi atau nasrani. Namun demikian, siapakah yang akan menjamin bahwa kita tidak mungkin berbuat kesalahan sebagaimana yang mereka lakukan.
Pernahkah kita bertanya dalam diri, sudah selaraskah apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita kerjakan? Mungkinkah kita menyuruh orang lain untuk menyelamatkan keluarganya, padahal kita sendiri menyia-nyiakan amanah kita dikeluarga? Mungkinkah kita menyuruh orang lain berbuat baik kepada ibu bapaknya, padahal kita dengan mudahnya melupakan dan menelantarkan ibu bapak kita? Mungkinkah kita menyuruh orang lain untuk memperhatikan waktu, padahal kita sendiri lupa dengan mudahnya melenakan waktu? Mungkinkan kita menyuruh orang lain untuk berbuat ikhlas dalam menjauhi aspek keduniawiaan, padahal kita sendiri seringkali mengharapkan imbalan atas nasehat yang kita berikan? Atau mungkinkah dan mungkinkah, padahal kita sendiri tidak melakukannya?
Bukankah kita tahu, jika kita menolong agama Allah hakikatnya kita telah menolong diri sendiri? Lalu kenapa jika amal-amal yang kita kerjakan berisi kebajikan, alasan apakah yang menyebabkan kita merasa begitu berjasa sehingga kita menuntut perhatian dan penghargaan dari orang lain? Mungkinkah kita merasa menjadi manusia yang paling berjasa di dunia ini? Padahal sesungguhnya kita adalah manusia yang tidak pandai bersyukur.
Perlu rasanya kita mengingat kembali ayat yang satu ini, “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS. Al-Hujurat:17).
Lalu apa yang telah kita kerjakan?
Adakah hari-hari yang kita lalui berisi kebaikan? Atau justru membuat kita lupa dan lalai. Hingga tanpa kita sadari kita semakin jauh dari-Nya?
Saat dunia telah membutakan kita. Saat dunia telah memperdayai kita. Dan kita masih begitu tenang, seolah tak ada lagi kehidupan setelah kita di dunia. Saat kebenaran telah di depan mata, tapi kemudian kita menutupinya menjadi sebuah kesalahan. Hingga sebaliknya, saat keburukan di hadapan mata, kita membiarkan dan tanpa sadar sering kita justru membenarkannya.
Bila tak ada lagi rasa takut atau gelisah di hati kita. Sudahkah kita bertanya? Apakah Allah telah menutup rapat-rapat pintu hati kita untuk menerima setiap kebenaran dihadapan kita? Bila ini yang terjadi, adakah kita termasuk kedalam orang-orang celaka?
Atau Saat takut dan gelisah masih kita rasakan, walau hanya sedikit. Maka sadarlah, Allah masih membuka pintu hati kita. Untuk perlahan kita sadari, seraya mengajak kita untuk selalu berusaha mendekat kepada-Nya.
Tatkala sedikit saja kita menyadari, betapa hakikat kita sebagai manusia begitu lemah dan hina. Maka tak ada lagi yang patut kita sombongan. Tak ada lagi waktu yang harus kita sia-siakan. Selain untuk, taat menghadap-Nya.
Jangan kita terlalaikan. Hidup yang ada saat ini, melainkan sebagai sebuah pengabdian kita terhadap Allah Swt. Hingga biarkan, setiap desah nafas yang mengalir dalam tubuh kita adalah bukti cinta dan taat kita kepada-Nya.
Saat maksiat semakin menguat dihati. Adakah kita ingat Illahi? Atau membiarkan diri terjerumus maksiat diri? (Ramadhan Aziz)
Kala gundah yang kau rasa menghinggapi setiap nilai dalam diri. Adakah rindu tuk bertanya pada diri. Sudah sejauh mana usaha yang kau lakukan tuk dekat dan taqorub kepada-Nya? Sudah sejauh mana nilai ketaatan diri tuk jauhi maksiat yang setiap saat bisa menghinggapi? Betapa nilai kehidupan yang hakiki adalah hidupnya hati dengan nilai-nilai keimananan kepada Illahi. Dan setiap waktu yang digunakan adalah untuk dan dalam ketaqwaan beserta ketaatan kepada-Nya. Tatkala seorang hamba telah berpaling dari-Nya, kerana sibuk oleh perbuatan maksiat, maka hilanglah hakikat hari-hari dalam kehidupannya. Akibatnya hanya penyesalan yang dia kan jumpai di hari kebangkitan nanti.
Saat maksiat semakin menguat dihati, ia tak lagi bisa merasakan lezatnya ibadah kepada Illahi walaupun berlimpah kelezatan dunia disisinya, dan tak lagi mampu menghapuskan gejolak kerisauan hati yang diakibatkan oleh perbuatan maksiatnya. Dan sesekali, keadaan buruk ini tak akan tersadari kecuali oleh orang yang dirinya diselimuti dengan iman dan taqwa. Saat kau menyadari dengan pasti, betapa tak ada yang lebih perih melebihi perihnya kerisauan hati yang menimpa seorang pelaku maksiat. Setiap saat, hidupnya tak lagi dalam ketentraman yang ada gambaran ketakutan yang kian mencekam. Kau mungkin teramat tahu, betapa kemaksiatan adalah sumber kegelapan, tatkala perbuatan maksiat semakin bertambah dan terus bertambah, maka bertambah pekatlah kegelapan di hatinya, sehingga pelaku maksiat semakin sesat dan terjerumus dalam lingkaran perbuatan yang merugikannya. tanpa dia tahu, bak seperti seorang yang buta berkelana dalam kegelapan malam yang amat pekat dan mencekam.
Setiap saat selayaknya kita perlu menyadari, bahwa ragam ujian yang menyesati hati perlu disiasati tuk dihindari. Karena kita pun sadar ada nafsu syahwati yang kapan saja siap mengebiri, untuk itu pandailah dalam menyikapi. Saat maksiat meyelimuti diri, sadarlah ada Allah Yang Maha Mengetahui, tak ada lagi yang tak tepantaui dalam pantauan-Nya. Meski kita coba tuk mengkelabui dan bersembunyi. Allah kan pasti mengetahui. Ingatlah, saat ini kita masih dihargai oleh-Nya, bukan karena mulianya diri, betapa Allah masih menutupi kebusukan diri yang orang tak ketahui. Andai kata Allah kan membuka tabir diri, maka tiada satupun yang bisa menghalangi. Dan saat itu terjadi maka celakalah diri.
Barang siapa yang sadar akan pentingnya menjaga izzah diri, ia tak lagi berusaha tuk mendekati nilai maksiat diri. Ia hanya akan berupaya untuk terus menyesuri jalan panjang kebaikan diri. Bila nilai kesadaran sudah terpancar dihati maka diri akan berusaha untuk terus tegak diatasnya cinta-Nya. Sebaliknya bila nilai kesadaran hilang dalam diri, maka ia akan terus sibuk dengan kemaksiatan, maka saat itulah perlahan pintu Cahaya-Nya akan memudar. Saat sudah seperti ini, mulailah taubat dan pasrah diri kepada-Nya.
Kala maksiat semua memang kan terasa lebih indah, namun hakikatnya kita sedang terbutakan dan keindahan itu hanyalah sesaat. Saat diri bermaksiat, sadar tak sadar, perlahan demi perlahan dosa semakin menggunung dan menjulang tinggi. Dan ketahuilah ada yang sedang menanti diakhirat nanti, tempat yang selama ini ditakuti. Dan sudah pasti kau ketahui kalau bukan neraka yang berisi panasnya gejolak api.
Mari mulai menata diri dan hati pada dunia yang selama ini dicari. Ada kebahagiaan yang hakiki yang sudah Allah Garisi. Betapa indah kala diri menyemai mimpi tuk bersama illahi. Tidakkah ada keinginan diri untuk tidak menjadi orang yang merugi? Dan tidakah indah ada syurga-Nya Allah yang siap menanti bagi mereka yang berbekal iman di dalam diri? Sungguh mari kita hiasi kehidupan ini dengan mengabdi pada Zat Yang Maha Mengadili nanti.
Mari Kita intropeksi diri. Semoga ada manfaat untuk diri..
Penulis: Ramadhan Aziz (Penulis Buku Untuk Jiwa Yang Merindu Tuhan-Nya)


